Kamis, 17 November 2011

NARKOBA???



   I. NARKOBA

A.   PENGERTIAN NARKOBA
1. Pengertian secara umum
Narkotika berasal dari bahasa yunani narkoun yang berarti membuat lumpuh atau mati rasa. Menurut UUD RI No. 22/1997 ditetapkan sebagai zat atau obat berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik buatan atau semi buatan yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menimbulkan nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan atau kecanduan.
   2. Pengertian secara khusus
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, Zat adiktif lainya dan obat obatan berbahaya
a.       Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan baik sintesisi maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
  1. Psikotropika adalah zat atau obat alamiah yang menyebab perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku
  2. Zat Adiktif lainya dan obat obatan berbahaya adalah bahan lain dan
obat bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaanya dapat menimbulkan ketergantungan


II.  JENIS – JENIS NARKOBA                                                                                   .

Ada beberapa jenis narkoba anatara laindapat di uraikan sebagai berikut:
A.   HEROIN

Merupakan narkoba yang sangat cepat menimbulkan ketergantungan, berupa serbuk putih dengan rasa pahit. Cara penggunaanya dapat disuntikkan, dihirup dan dimakan. Zat ini dapat menimbulkan rasa mengantuk, lesu, penampilan dungu dan jalan mengambang, gejala putus asa rasa tidak nyaman dalam perut, kram otot dan nyeri tulang




B.   EXTASI / INEKS

Berbentuk pil dan mempunyai warna beraneka ragam. Orang yang mengkonsumsi jenis ini tenggorokanya terasa kering, kejang dan jantung terasa berdebar-debar lebih cepat dan memaksa aktivitas tubuh melebihi batasnya sehingga sering mengakibatkan dehidrasi, gerakan tubuh tidak terkendali, sakit kepala, muntah dan hilang nafsu makan


C.   SHABU - SHABU




Berbentuk kristal, tidak berbau, mudah larut dalam air dan alkohol cara penggunaan dihisap dengan bantuan alat / di bong. Akibat yang ditimbulkan diantaranya denyut nadi yang keras dan meningkat, tekanan darah meningkat, kelainan jantung, kekurangan cairan sehingga menimbulkan pingsan, panas, kejang dan perasaan tidak berdaya jika zat adiktif ini dihentikan




D. KOKAIN

Berbentuk serbuk dipakai dengan cara dihisap. Zat ini banyak menimbulkan sumbatan pada hidung, gangguan paru, paru basah dan penekan pada pernafasan, gangguan jantung dan kelainan jantung, gangguan pada pembuluh darah otak kejang dan stroke serta infeksi usus.
E.  GANJA

Ganja adalah daun yang mempunyai ciri runcing, bergigi dan selalu berjari-jari ganjil biasanya dikeringkan dan dicampuri dengan tembakau dan dihisap seperti halnya merokok. Menimbulkan ketergantungan psikis terutama bagi mereka yang telah rutin menggunakanya. Menurunkan ketrampilan motorik, bingung dan kehilangan konsentrasi serta motivasi, Komplikasi kesehatan pada daerah pencernaan sistem peredaran darah dan juga kanker.


F. OBAT PENENANG
Obat penenang ini antara lain: obat tidur, pil koplo, nipam dll.
Bentuknya berupa tablet digunakan dengan cara ditelan langsung. Efek obat ini diantaranya bicara jadi pelo, memperlambat respon fisik mental dan emosi, peningkatan rasa percaya diri. Dalam dosis yang tinggi akan menimbulkan perasaan cemas sensitif dan marah. Penggunaan campuran dengan alkohol akan menghasilkan kematian.



DAMPAK PENYALAHGUNAAN NARKOBA                                                         .

Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian zat yang bukan untuk tujuan pengobatan atau yang digunakan tanpa mengikuti aturan atau pengawasan dokter sehingga seringkali menyebabkan ketagihan atau ketergantungan dan kerusakan baik secara fisik maupun mental emosional. Adapun dampak dari penyalahgunaan narkoba diantaranya
  
A. Ditinjau dari segi ilmu kesehatan
1. Merusak kesehatan fisik
penyalahgunaan narkoba akan merusak susunan saraf pusat otak, organ jantung (hati, ginjal, paru dan usus), merusak sistem reproduksi, penyebaran HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik dan gangguan lainya (daya ingat,nafsu makan menurun) bahkan bisa berakhir pada kematian
2. Merusak kesehatan mental
penyalahgunaan narkoba merusak kesehatan mental seperti timbul perilaku yang tidak wajar, mudah tersinggung, marah, curiga, tega main pukul, dan bicara kasar

B. Dampak psikologis dan sosial
©       Emosi yang tidak terkendali
©       Kecenderungan berbohong
©       Tidak memiliki tanggungjawab
©       Hubungan dengan keluarga, lingkungan dan masyarakat lain terganggu
©       Tidak peduli dengan nilai dan norma yang ada
©       Cenderung melakukan tindak pidana kekerasan, pencurian dan mengganggu      ketertiban umum
©       Menarik diri dari lingkungan sosial

. FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA                                    .




A. Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja disebabkan oleh dua faktor diantaranya:

1. Faktor lingkungan
Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja adalah:
{  Hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga
{  Lingkungan yang rawan narkoba
{  Kurangnya kontrol orang tua
{  Tekanan kelompok sebaya


2.
Faktor individu
Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja adalah:
I  Keinginan coba – coba
I  Ingin diterima oleh kelompoknya
I  Supaya kelihatan ”tren”
I  Mencari kenikmatan sesaat
I  Cari sensasi atau perhatian
I  Mengikuti tokoh idola

B. Pemulihan penyalahgunaan narkoba
1. Umumnya pengguna narkoba membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulihkan kondisi fisik atau psikis dan sosialnya. Dalam tahap pemulihan untuk kembali pada kondisi yang wajar korban harus menjalani program rehabilitasi
2.  Untuk menjalani proses pemulihan dibutuhkan biaya yang besar, waktu, dan kerja keras, disiplin dan niat yang kuat serta kerjasama antara penyalahguna, keluarga dan lembaga rehabilitasi
3.  Tidak ada jaminan sama sekali bahwa pengguna tidak akan kambuh/ menggunakan lagi sekalipun seorang pecandu sudah pulih selama beberapa tahun. Pemulihan adalah perjuangan seumur hidup

HIDUP ADALAH..............

hidup adalah masalah pilihan
memilih untuk bahagia atau untuk sengsara.
memilih untuk dipulihkan atau untuk menyimpan kepahitan.
memilih untuk mengampuni atau untuk mendendam.

hidup adalah masalah pilihan.
kebahagiaan semu bisa anda dapatkan, yang sejati tak jauh dari jangkauan.
cinta kasih sayang juga bisa anda miliki, namun dendam dan amarah juga bisa anda alami.

persahabatan nan indah bukan impian, pengkhianatan dan kepahitan mungkin anda dapati.

hidup adalah masalah pilihan.
mengenai bagaimana anda menjalani hidup. mengenai bagaimana anda menghabiskan seluruh waktu. mengenai bagaimana anda mencapai impian. dan mengenai bagaimana anda memandang kehidupan.

ada orang yang menganggap kehidupan sebagai angin yang berhembus. banyak yang datang dan yang pergi. tak dapat ditebak dan tak dapat diselami.

ada pula yang menganggap kehidupan sebagai meda peperangan. dimana ia harus berjuang tanpa henti. tanpa kedamaian di hati.

sementara yang lain menganggap kehidupan sebagai kutuk yang Maha Kuasa. hidup tak lagi berarti bagi dirinya. ratap tak pernah jauh dari mulutnya. air mata mengalir siang dan malam, sebab hanyalah duka nestapa yang ada.

namun............................

orang yang bahagia menganggap kehidupan sebagai suatu emas yang mulia. harta nan sangat berharga. anugerah Ilahi yang tak tertandingi.

dijalaninya hidup dengan asa dan impian. berjalan di jalan Sang Pencipta. berserah sepenuhnya. melangkah setapak demi setapak. sampai didapatinya mahkota kemuliaannya.

hidup adalah masalah pilihan. yang manakah yang anda pilih?????

MASALAH ADALAH TANTANGAN

Bila Anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan akan menghindarinya. bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya. namun masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan di balik setiap masalah.
masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. maka hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk anda sukses. tanpa masalah anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. bahkan hidup ini pun masalah, karena terimalah sebagai hadiah.
hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak- anaknya bukanlah serpihan- serpihan makanan pagi. bukan pula eraman hangat di malam- malam yang dingin. namun ketika mereka melempar anak- anak itu dari tebing yang tinggi. detik pertama anak- anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. sesaat kemudian, bukan kematianyang mereka terim a, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. bila anak tak berani mengatasi masalah, anda tak akan menjadi seorang yang sejati.

Rabu, 16 November 2011

Yang Harus Kita Lakukan Agar Terlihat Fresh di Sekolah

berpenampilan segar di sekolah itu tidaklah sulit untuk dilakukan. penampilan yang fresh bukan hanya dengan kita bermake-up ataupun memakai aksesoris yang bahus, justru jika hal tersebut kita lakukan...maka itu akan melanggar cara berpenampilan di sekolah.
adapun bagaimana kita bisa terlihat segar di sekolah adalah dengan berpakaian rapi dan sesuai dengan peraturan di sekolah. Penampilan rapi dapat dilihat saat kita berangkat ke sekolah. Sebaiknya baju dimasukkan kedalam celana atau rok kita. 
Dengan penampilan itu, baju kita tidak akan kelihatan kusut. Sebelum menggunakan pakaian, sebaiknya diseterika terlebih dahulu agar tidak kusut. Begitu juga saat menggunakan sepatu harus menggunakan kaos kaki. Ini agar menjaga kaki tidak lecet dan keliahatan bagus. Selain itu, perhatikan juga dengan dasi yang kita pakai. Jangan sampai miring ke kiri atau ke kanan. Bisa-bisa kita jadi bahan ejekan teman karena dasi kita miring. Memakai topi sekolah juga harus sesuai dengan bentuknya. 
Lidah topi berada di depan dan tidak dilengkungkan. Merapikan penampilan pakaian tidak hanya saat berangkat ke sekolah saja. Tapi saat sebelum pulang sekolah.
bagi siswi- siswi....saat berangkat sekolah bisa saja memakai bedak secukupnya. hal lain yang dapat dilakukan bagi semua siswa agar kita terlihat segar dan enak untuk dipandang adalah dengan selalu menjaga senyum. ini dimaksudkan agar kita terlihat friendly. tapi bukan senyum- senyum sendiri tanpa sebab lhooooo.....

ingat...meskipun secantik- cantiknya anak tapi kalau selalu manyun maka akan terlihat tidak cantik. sedangkan anak yang kurang cantik namun bisa menjaga kerapian dan senyum,,,,maka ia akan terlihat segar dan enak dipandang teman- temannya.

Bagaimana Mengatur Uang Jajan??

Dari artikel ini semoga kamu mampu mempraktekkannya

Rizki Adiyasa (17), siswa kelas XII SMA Infokom Bogor, mendapat uang saku dari orangtuanya sebesar Rp 20.000 per hari. Uang itu dia gunakan untuk dua kali naik angkutan umum dari rumah ke sekolah pergi-pulang Rp 8.000, juga untuk makan siang Rp 12.000.
”Kadang saya bawa bekal dari rumah, jadi enggak perlu jajan. Uangnya bisa ditabung,” kata Rizki.
Dias Aisyah Putri (15), siswi kelas XI SMA Al Azhar Bumi Serpong Damai, Tangerang, mendapat uang saku lebih banyak, Rp 25.000 per hari. Uang sakunya nyaris utuh karena dia tidak menumpang angkutan umum saat ke sekolah, melainkan diantar. Begitu juga saat istirahat, dia jajan kadang-kadang saja karena Dias lebih sering membawa bekal dari rumah.
”Uang saku aku tabung, tapi bakal abis kalo hari Sabtu-Minggu. Soalnya aku selalu jalan-jalan ke mal sama teman-temanku. Uang itu, ya, buat aku belanja, buat makan, beli pulsa telepon, nonton film. Susah banget kalo mau nabung,” kata Dias.
Fina Mutiasari (15), Twena Dara Fizella (16), dan Nita Nabilla (15) adalah siswi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta Selatan. Fina mendapat uang saku sebesar Rp 20.000 per hari, Twena mendapat uang saku bulanan Rp 250.000-Rp 300.000 yang diberikan orangtuanya di awal bulan, sedangkan Nita mendapat uang saku mingguan sebesar Rp 80.000.
Fina enggak perlu mengeluarkan biaya transpor ke sekolah karena dia ikut kendaraan antar-jemput, sedangkan Twena diantar ibunya ke sekolah dan pulang dengan temannya, dan Nita berangkat diantar orangtua dan pulang naik angkutan umum.
”Saya nabung tiap bulan Rp 100.000, sekarang sudah terkumpul Rp 1,8 juta. Uang itu mau saya pakai untuk membayar study tour bulan Desember nanti, Rp 1,8 juta,” kata Twena.
Mereka mengaku agak susah menabung karena godaan untuk membeli barang atau jalan-jalan ke mal sangat kuat.
Siswa kelas XI SMA Negeri 6 Jakarta, Nur Aji Luthfi Prakoso, mendapat uang saku tidak terlalu besar, Rp 10.000 per hari. Ia biasa diberi uang saku mingguan Rp 50.000.
”Saya cuma bayar angkutan pergi-pulang Rp 2.000. Jadi saya masih bisa nabung. Sempat nabung sampai Rp 900.000 buat beli pulsa telepon dan nambahin beli Blackberry,” kata Aji.
Harus berlatih
Remaja ikut-ikutan teman main ke mal atau berbelanja benda konsumtif, menurut psikolog Tika Bisono, adalah sesuatu yang wajar karena mereka hidup dalam perspektif peer group.
”Buat anak-anak yang kreatif, mereka akan jadi pemimpin dalam grup, menjadi rujukan buat anak-anak yang relatif pasif dan tak kreatif. Mereka yang pasif ini akan sangat terbantu,” kata Tika.
Percampuran model kepribadian, sifat, dan karakter ini, menurut Tika, akan menguntungkan pertumbuhan psikologis karena remaja sangat berkepentingan untuk diakui dan diterima kelompoknya.
Bagaimana remaja mengelola uangnya, mereka bisa mencontoh bagaimana orangtua masing-masing mengelola uang. Jika orangtua mengajarkan berhemat, sebaiknya remaja juga melakukan penghematan karena mencari uang itu tak mudah.
Berapa besar uang saku yang ideal buat remaja tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Itu juga yang dikemukakan perencana keuangan Safir Senduk.
”Remaja perlu belajar bagaimana mengelola uang, mereka harus bisa mempertanggungjawabkan ke mana uangnya digunakan,” katanya.
Hal yang harus dilatih para remaja adalah bagaimana membangun kemampuan nalar dan logika, bagaimana mengambil keputusan yang tepat.
”Kalau mereka bisa mengambil keputusan sendiri, itu tentu lebih bagus dibandingkan disuruh orangtua karena keputusannya tak akan matang. Kalau remaja sudah bisa memutuskan sendiri, tidak ikut-ikutan teman, itu namanya punya kecerdasan intrapersonal. Tidak masalah bergaul dengan siapa pun kalau dia sudah memiliki kecerdasan intrapersonal,” kata Tika.
Berpenghasilan
Bagi Safir Senduk, remaja SMA yang memiliki uang saku bisa disebut sudah berpenghasilan. Namun, karena penghasilan mereka dapatkan bukan dari bekerja, tak heran jika remaja usia SMA begitu mudah membelanjakan uangnya.
”Jika mereka mendapatkan penghasilan dari bekerja, entah dengan menulis atau bekerja sampingan, tentu mereka lebih menghargai uang yang didapatkan dengan susah payah,” kata Safir.
Remaja pun sudah sewajarnya belajar mengelola uang saku. Dan, uang saku sebaiknya diberikan secara bulanan supaya mereka langsung praktik bagaimana mengelola uang itu agar cukup untuk keperluan selama sebulan.
”Remaja SMA nantinya juga akan bekerja, mendapat gaji bulanan, jadi mulai sekarang mereka harus belajar mengelola uang saku bulanan,” tambah Safir.
Untuk pengeluaran, menurut dia, bisa dipilah menjadi tiga, yakni pengeluaran karena wajib, butuh, dan ingin.
Pengeluaran wajib adalah pengeluaran yang harus dibayarkan. Maka, jika tidak dibayar akan ada konsekuensi, misalnya membayar cicilan utang.
Pengeluaran karena butuh adalah pengeluaran yang harus dibayarkan. Namun, jika tidak dibayar, tidak ada konsekuensi, misalnya membeli pulsa telepon.
Sedangkan pengeluaran karena ingin adalah segala pos pengeluaran yang kita bayarkan karena ingin, semisal membeli T-shirt di distro.
”Nah, para remaja harus tahu betul pengeluarannya itu termasuk pengeluaran apa? Wajib, butuh, atau ingin?” kata Safir Senduk.
Jika remaja menghargai uang, tentu mereka tidak akan dengan mudah menghabiskan uangnya. Bahkan mereka bisa menabung dan berinvestasi.
”Menabung itu menyisihkan uang untuk mencapai tujuan di masa datang, misalnya membeli sesuatu. Kalau berinvestasi itu berarti memperbesar aset yang kita miliki tanpa goal atau tujuan,” kata Safir Senduk.
Meskipun uang saku yang dimiliki tidak besar, para remaja sebenarnya juga bisa berinvestasi, misalnya dengan membeli ORI (Obligasi Ritel Indonesia) atau reksadana.
”Manajer investasi yang akan memutar uang kita. Reksadana bisa kita beli dengan dana sekitar Rp 100.000-Rp 200.000. Sayang sekali kalau uang kita dihabiskan. Kalau membeli sesuatu karena ikut-ikutan teman, itu artinya dia tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Jadilah orang yang bisa memimpin diri sendiri,” saran Safir Senduk. (LOK

Rabu, 26 Oktober 2011

Yoshioka Yui




MASA KECIL YUI TANPA SOSOK SEORANG AYAH
Yui Yoshioka lahir di sebuah kota di Jepang yang bernama Fukuoka pada tanggal 26 Maret 1987, dia dari kecil hanya di rawat oleh ibunya, sejak kecil dia tidak pernah merasakan memiliki seorang ayah, akan tetapi dia selalu dikelilingi oleh musik sewaktu kecil, sampai dia beranjak dewasa.

SEJAK SMP KETERTARIKAN MENGARANG LAGU MULAI MUNCUL
Yui memulai menulis lirik lagunya sendiri sewaktu di kelas 3 SMP. Yui sangat bercita-cita menjadi penyanyi, dan pergi ke mana-mana dengan selalu membawa gitarnya.
Sambil bersila di atas kasur, Yui memainkan gitarnya dan menulis lagu pertama yang diberi judul “Why me”. Setelah itu, ia mulai menyanyi di pinggir jalan di kawasan Tenjin, Fukuoka sebagai atraksi pembuka bagi teman satu tempat kursus musik.

SMA, SERING SAKIT SAKITAN, KARENA MASIH SEKOLAH SAMBIL BEKERJA SAMBILAN DAN ” MENGAMEN”
Sewaktu SMA, ia sering menyaksikan pertunjukan grup musik Bianco Nero di jalanan, dan memutuskan untuk berhenti sekolah. Yui mulai belajar menyanyi, menulis lagu, dan memainkan gitar di kursus musik kota Fukuoka. karena ekonomi yang kurang dia sering bekerja sampingan untuk membantu kehidupannya dengan ibunya, juga untuk membiayai sekolahnya.Selalu sibuk dengan kerja sampingan dan sekolahnya dia tidak ada waktu untuk musik, dan akhirnya dia jatuh sakit, sewaktu dia dirawat di rumah sakit dia berpikir kalau tidak akan mungkin bisa menjalankan sekolah dan musik bersamaan.
Setelah dia keluar dari rumah sakit dia menjalani hidupnya dengan musik, dia ikut ke dalam sebuah band yang bernama Bianca Nero, setelah beberapa konser dengan band itu YUI mengutarakan keinginannya kepada band tersebut untuk megikuti jejak mereka di dunia musik. Bianco Nero merekomendasikan YUI untuk masuk sekolah musik. YUI memutuskan keluar dari sekolahnya dan mulai serius belajar menulis lagu dan bermain gitar.
Untuk menjadi seorang Profesional dia terus melatih diri, salah satu usahanya adalah membawa gitar dan bernyanyi di depan Stasiun Tenjin di Fukuoka. YUI berkeliling membawa gitarnya dan bernyanyi di sekitar pintu masuk Stasiun Tenjin Fukuoka. Meskipun pemalu, YUI menikmati penampilan jalanannya.



AWAL KARIR
Awal karier Yui sebagai seorang profesional adalah ketika dia di rekomendasikan oleh seorang instruktur dari jukunya tersebut, untuk ikut ke dalam audisi yang diadakan oleh Sony Music Japan. Dalam audisi itu hanya disarankan untuk menyanyikan dua lagu tetapi Yui menyanyikan 3 lagu dan membuat para juri memberikan angka tinggi kepadanya, setelah itu banyak perusahaan yang berebut untuk mendapatkan YUI. Setelah itu pada tanggal 24 Desember 2004 Yui merilis singel debutnya “It’s Happy Line” dibawah label indie Leaflet Record.
Perusahaan rekaman menjadi saling berebut untuk mengontraknya. Lagu pertama yang dinyanyikannya, “Why Me” nantinya dijadikan single perdana, diikuti dengan “It’s Happy Line” dan “I Know”. Keduanya diterbitkan sebagai singel indie debutnya, “It’s Happy Line” dengan lagu “I Know” di sisi B. Sebagai penghargaan kepada kampung halamannya, Yui menulis lagu “Feel My Soul” ketika meninggalkan kampung halamannya, Fukuoka. Seorang produser dari stasiun televisi Fuji TV mendengar video klip demo lagu tersebut, dan bermaksud menjadikannya sebagai lagu tema serial drama di Fuji TV. Debut singel Yui, “Feel My Soul” yang dirilis 23 Februari 2006 dijadikan lagu tema serial drama Fukigen na Gene. Serial drama tersebut dihiasi lagu-lagu Yui, seperti “Feel My Soul” dan “It’s Happy Line”. Singel “Feel My Soul” laku di atas 100 ribu keping, namun 3 singel berikutnya, “Tomorrow’s Way”, “Life”, dan “Tokyo” ternyata tidak sesukses “Feel My Soul”. Setelah merilis 4 buah singel, album pertama Yui yang berjudul From Me To You dirilis bulan Februari 2006 dan laku di atas 200 ribu keping.

“Rolling Star” adalah singel ke-7 Yui yang dijadikan lagu pembuka seri ke-5 anime Bleach. Singel ke-3, “Life” juga dipakai sebagai lagu penutup seri ke-5 anime yang sama. Selain itu, iklan televisi ponsel KDDI layanan “au Listen Mobile Service” memakai singel ke-8 Yui, “CHE.R.RY” sebagai lagu tema. Sementara itu, album kedua, Can’t Buy My Love menduduki puncak tangga album Oricon selama 2 minggu berturut-turut, dan laku lebih dari 500.000 keping. Singel ke-9 berjudul “My Generation/Understand” dirilis 13 Juni 2007, sekaligus merupakan singel pertama Yui yang berbentuk double A-Side (dua lagu unggulan di sisi A). My Generation menjadi lagu tema untuk serial drama Seitosho-kun, dan “Understand” menjadi lagu tema film Sidecar ni Inu. Singel ke-10, “Love & Truth”, dirilis 26 September 2007, merupakan lagu tema dari film yang dibintangi oleh Erika Sawajiri, yang berjudul Closed Note.

Singel ke-11 YUI berjudul “Namidairo” bernada gelap dan sedih. Sementara single ke 12 nya “Summer Song” dirilis 2 Juli 2008 berhasil mencapai penjualan tertinggi di minggu pertama Oricon Chart. Album ketiganya dirilis pada 9 April 2008, yang diberi judul I Loved Yesterday, yang terjual lebih dari 400 ribu copy.
Album kompilasi B-side pertamanya,My Short Stories dirilis akhir tahun dengan Hit Single berjudul “I’ll Be”. Lagu ini menjadi jingle iklan Sony Walkman di Jepang. Setelah peluncuran single ini,YUI memutuskan untuk istirahat beberapa bulan agar lebih fokus pada proyek tahun depan.
Pada 3 Juni 2009, Single terbaru YUI berjudul “again”diluncurkan. Lagu ini menjadi opening anime “Fullmetal Alchemist Brotherhood”. “again” berhasil meraup penjualan sebanyak 110.000 copies di minggu pertama. Single ini akhirnya menjadi peringkat satu dalam penjualan minggu pertama paling tinggi pada 2009. Sedangkan single berikutnya, “It’s All to Much/Never Say Die” juga meraup kesuksesan yang sama. Kedua lagu tersebut (It’s All to Much dan Never Say Die) silih berganti menempati peringkat 1 Oricon Chart.
Single terbarunya, “GLORIA” dirilis awal tahun 2010 dengan nuansa musim dingin. Single ini kembali merajai Oricon Weekly Sales.Dengan ini, YUI berhasil memegang predikat empat single konsekutif (empat single terakhirnya menduduki puncak oricon berturut-turut).
Single berikutnya “To Mother” dirilis tanggal  Juni 2010. Setelah 2 tahun dan 3 bulan setelah I Loved Yesterday dirilis, album barunya, Holidays In The Sun dirilis pada tanggal 14 Juli 2010. Single terbarunya yang bernuansa hujan, “Rain” dirilis tanggal 24 November 2010.
MERAMBAH DUNIA AKTING
Sementara itu, Yui memulai karier akting dengan membintangi film berjudul Midnight Sun (Taiyou no Uta). Film tersebut diputar di Festival Film Cannes 2006 dan dirilis di Jepang pada 17 Juni 2006. Singel ke-5, “Good-bye Days” khusus ditulisnya untuk film Midnight Sun. Kepopuleran singel Yui yang sebelumnya kembali terangkat setelah singel ke-6, “I Remember You” diedarkan.

Kamis, 20 Oktober 2011

Jurnal Skripsi

PENERAPAN KONSELING RASIONAL EMOTIF
UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI
SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 6 TUBAN


Abstrak : Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui apakah konseling rasional emotif dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban . Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperimen berupa one-group pre-test dan post-test design, metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket untuk mengukur kepercayaan diri. Subyek dalam penelitian ini adalah 7 siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban yang memiliki kategori rendah pada kepercayaan diri. Teknik analisis data yang digunakan yaitu sign-test (uji tanda). Hasil perhitungan pada tabel tes binominal dengan N = 7 dan X= 0, diperoleh p= 0,008. Jika α= 5% (0,005) maka 0,008 lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini hipotesis nol (Ho) yang berbunyi “tidak ada perbedaan tingkat kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban antara sebelum dan sesudah diberikan konseling rasional emotif” ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “ada perbedaan tingkan kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban antara sebelum dan sesudah diberikan konseling rasional emotif” dapat diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa konseling rasional emotif dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban
Kata kunci : konseling rasional emotif, kepercayaan diri


Latar Belakang Masalah
Permasalahan dalam dunia pendidikan begitu beragam terkait kegiatan  mendidik siswa menjadi orang yang unggul dan berkompeten dalam berbagai bidang. Melalui Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam maupun di luar kelas, diharapkan siswa mampu memaksimalkan kompetensi yang mereka miliki secara kreatif dan aktif. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tentu saja tidak lepas dari timbulnya permasalahan, salah satunya dalam proses pemberian materi pelajaran. Beberapa masalah tersebut dapat berasal dari kurikulum, guru, maupun siswa itu sendiri. Ardiansyah (2007) mengatakan bahwa masalah yang berasal dari siswa dan berpengaruh pada pencapaian prestasi akademik maupun non-akademiknya dapat meliputi kurangnya motivasi belajar, tidak mampu bergaul secara baik dengan teman- temannya di sekolah, kurang tahu bagaimana cara belajar yang baik, atau juga karena tidak percaya terhadap kemampuan yang dimilikinya.
Dari angket Who am I yang telah diberikan pada ke-35 siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban, ada 15 siswa yang menunjukkan adanya gejala tidak percaya diri. Ketidakpercayaan diri tersebut dapat diketahui berdasarkan jawaban yang diberikan oleh siswa yakni mereka segan bermain bersama teman- teman, sukar mendapatkan teman dan bergaul, sukar mengemukakan pendapat, mudah marah, dan tidak punya banyak teman. Jawaban- jawaban tersebut termasuk ciri- ciri pada orang yang tidak percaya diri berdasarkan pendapat Hakim (2002).
Data di atas didukung dengan hasil wawancara pada konselor sekolah yang mendampingi kelas IX B. Wawancara yang dilakukan pada bulan Agustus 2009, konselor sekolah menyatakan bahwa semua kelas mempunyai siswa yang tidak percaya diri hampir 50% dari jumlah siswa di masing- masing kelas. Hal tersebut ditunjukkan oleh siswa yang tidak pernah berani menyampaikan pendapat di kelas, susah bergaul dengan teman- temannya terlebih teman baru, dan punya sedikit teman. Selain itu, penyebab dari ketidakpercayaan diri siswa tersebut telah diketahui konselor sekolah, yakni dikarenakan takut salah saat berbicara, takut ditertawakan oleh teman- temannya ketika tampil di depan umum, merasa canggung dengan keadaan fisiknya, dan merasa berbeda dari teman- temannya yang lain. Perasaan– perasaan itu muncul akibat pikiran negatif dan kurang rasional.
Kurangnya rasa percaya diri tersebut membuat siswa tidak berani mengembangkan kemampuannya secara optimal di dalam maupun di luar kelas. Kita ketahui bahwa ada 2 penilaian pada siswa yakni penilaian objektif dan subjektif. Penilaian subjektif salah satunya dari nilai ujian/ tes dan subjektif salah satunya berdasar pada keaktifan siswa di kelas ketika KBM berlangsung. Keaktifan di dalam kelas itu pun akan dapat mengembangkan pola pikir siswa untuk selalu mengeksplorasi kemampuannya lebih jauh. Hal lainnya yang terjadi adalah ketika siswa merasa canggung dengan dirinya sendiri, maka mereka tidak akan mendapatkan banyak teman untuk diajak bergaul maupun berbagi pengetahuan dan pengalamannya. Ini terlihat jelas bahwa kurangnya percaya diri pada siswa akan menghambat pencapaian prestasi belajar dan pergaulan di sekolah.
Terkait dengan permasalahan kurangnya rasa percaya diri yang dialami sebagian siswa SMP Negeri 6 Tuban, Buhler (dalam Hurlock 2000) mengungkapkan bahwa masa remaja pada usia SMP merupakan masa yang negatif, yakni cenderung tidak memiliki sikap yang sudah dimiliki sebelumnya. Siswa yang dulunya pada usia SD memiliki percaya diri yang tinggi, dapat bersikap sebaliknya ketika usia SMP. Mereka bisa saja menciptakan sikap yang baru yang kurang baik dari sebelumnya. Hurlock (2000) menambahkan bahwa masalah yang sering timbul pada anak usia SMP ini termasuk di dalamnya adalah hilangnya kepercayaan diri yang diakibatkan oleh perubahan fisik dan tekanan dari berbagai pihak. Banyak dari mereka yang akhirnya merasa tidak percaya diri.
Kepercayaan diri sendiri diartikan oleh Hakim (2002) merupakan keyakinan dan sikap seseorang terhadap kemampuan pada dirinya sendiri dengan menerima secara apa adanya baik positif maupun negatif yang dibentuk dan dipelajari melalui proses belajar dengan tujuan untuk kebahagiaan dirinya. Percaya diri merupakan modal dasar seorang manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhan sendiri. Seseorang mempunyai kebutuhan untuk kebebasan berpikir dan berperasaan. Sehingga seseorang yang mempunyai kebebasan berpikir dan berperasaan akan tumbuh menjadi manusia dengan rasa percaya diri.
Permasalahan kepercayaan diri rendah yang muncul di SMP Negeri 6 Tuban adalah karena faktor dari pikiran irasional siswa terhadap dirinya. Oleh karena itu yang dapat dilakukan untuk membantu siswa menjadi lebih percaya diri adalah dengan mengatasi pikiran irasional mereka. Banyak sekali pendekatan dalam konseling yang dapat digunakan untuk membantu klien dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan kognitif irasioanl mereka, salah satunya adalah pendekatan kognitif. Menurut Baraja (2008) pendekatan kognitif memberikan keyakinan apa yang ada dalam pikiran mereka akan berdampak pada perasaan dan tindakannya. Jika yang dipikirkan adalah yang irasional (tidak masuk akal), maka perasaan dan tindakannya juga tidak akan rasional. Dengan mengatasi kognitif mereka, konseli diyakinkan dapat merubah perasaan dan tindakannya tentang sesuatu yang mereka pikirkan yang semula irasional menjadi lebih rasional.
Salah satu pendekatan dalam kognitif adalah Rasional Emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Baraja (2008) mengatakan pendekatan Rasional Emotif dapat dilakukan oleh konselor dengan cara mengubah cara berpikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku mereka serta memanfaatkan akal sehat untuk mengatasi masalah.
Menurut Ellis (dalam Corey, 2003: 246) “teknik yang paling cepat, paling mendasar, paling rapi, dan memiliki efek paling lama untuk membantu orang- orang dalam mengubah repon- respon emosional yang disfungsional barangkali adalah mendorong mereka agar mampu melihat dengan jelas apa yang dikatakan oleh mereka kepada diri mereka sendiri”. Ellis (dalam Willis 2004) mengatakan bahwa Rasional Emotif dilakukan dengan cara konselor menunjukkan bahwa masalah ataupun gangguan yang dihadapinya adalah berasal dari pikiran irasionalnya, maka konseli akan dibantu untuk membedakan pikiran irasional dengan rasionalnya. Setelah konseli dapat memahami bahwa masalahnya bersumber dari pikiran irrasionalnya, maka konseli berusaha mengubah keyakinan tersebut menjadi rasional. Selanjutnya konselor berusaha membantu konseli menghindari pikiran irasionalnya dengan menjelaskan mekanisme pikiran tersebut menjadi masalah dalam hidupnya. Kemudian membantu konseli untuk mengembangkan filosofi hidupnya yang rasional dan membuang yang irrasional.
Konseling rasional emotif dapat diterapkan pada siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban yang kepercayaan diri rendah didukung oleh pendapat Lie (2003) yang mengungkapkan bahwa remaja berusia 13- 15 tahun (masa SMP) mempunyai minat untuk memecahkan masalahnya dan menyukai permasalahan yang menantangnya berpikir. Ini menunjukkan bahwa remaja usia ini yaitu siswa kelas IX B dapat dilakukan konseling Rasional Emotif untuk membantu mereka mengatasi masalah.
Permasalahan yang ada di SMP Negeri 6 Tuban tersebut menimbulkan ketertarikan untuk diteliti dengan memberikan layanan konseling individu Rasional Emotif agar kepercayaan diri siswa meningkat. Konseling Rasional Emotif digunakan dengan alasan bahwa penyebab ketidakpercayaan diri yang dialami siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban tersebut adalah karena pikiran negatif dan tidak rasional siswa. Berdasarkan uraian di atas diperlukan pengujian Penerapan Konseling Rasional Emotif untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban.
Ciri- Ciri Percaya Diri
Ciri- ciri percaya diri menurut  Hakim (2002) yakni individu yang mempunyai sikap percaya diri yaitu yang dapat bersikap tenang dalam mengerjakan segala sesuatu, mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai, mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi, mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi, memiliki kondisi fisik yang cukup menunjang penampilannya, memiliki kecerdasan yang cukup, memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik, dan selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah.
Langkah- Langkah Dalam Konseling Rasional Emotif
Langkah- langkah konseling rasional emotif dari Ellis (dalam Willis) yang telah dimodifikasi, yaitu Konselor menunjukkan bahwa masalah ataupun gangguan yang dihadapinya adalah berasal dari pikiran irasionalnya, maka konseli akan dibantu untuk membedakan pikiran irasional dengan rasionalnya.  Setelah konseli dapat memahami bahwa masalahnya bersumber dari pikiran irrasionalnya, maka konseli berusaha mengubah keyakinan tersebut menjadi rasional. Konselor berusaha membantu konseli menghindari pikiran irasionalnya dengan menjelaskan mekanisme pikiran tersebut menjadi masalah dalam hidupnya. Konselor membantu konseli untuk mengembangkan filosofi hidupnya yang rasional dan membuang yang irrasional.
Metode Penelitian
             Maka rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian pre eksperimen dengan menggunakan Pre-test & Post-test One Group Design, yaitu eksperimen yang dilakukan pada satu kelompok saja tanpa adanya kelompok pembanding. Kelompok eksperimen akan diberikan tes awal (pre-test) dengan menggunakan angket, kemudian diberikan perlakuan selama jangka waktu tertentu dengan menggunakan Pendekatan Rasional Emotif dalam konseling individu. Setelah itu diberikan test akhir (post-test).                                                                                                                                                                                                                                                                            
Berdasarkan tujuan penelitian, yakni “ingin menguji ada tidaknya perbedaan skor kepercayaan diri antara sebelum dan sesudah diberikan konseling Rasional Emotif siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban”. Maka prosedur pelaksanaan penelitian dengan rancangan ini adalah Memilih satu kelompok yang akan digunakan sebagai subyek penelitian yaitu siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban. Memberikan tes awal (pre-test) kepada siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban. Tes awal ini dilakukan untuk mengetahui siswa yang teridentifikasi kurangnya percaya diri. Memberikan perlakuan kepada siswa yang teridentifikasi mengalami kepercayaan diri yang rendah dengan menerapkan konseling Rasional Emotif dalam konseling individu yang dikembangkan oleh Ellis (dalam Willis, 2004) yang telah dimodifikasi. Penelitian ini dilakukan pada 7 siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban yang percaya dirinya berada pada kategori rendah, yakni skor percaya diri di bawah 132. Perlakuan dilakukan di ruang BK dan musholla SMP Negeri 6 Tuban dengan 5 kali pertemuan pada masing- masing subyek penelitian.
Hasil dan Pembahasan
Dalam penelitian di SMP Negeri 6 Tuban, telah dikemukakan 7 siswa kelas IX B yang mengalami kepercayaan diri yang rendah. Ketujuh siswa tersebut selanjutnya diberikan perlakuan konseling rasional emotif.
Hasil uji tanda diketahui p = 0,008 harga yang lebih kecil dari α = 0,05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima, ini diartikan bahwa ada  perbedaan tingkat kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban antara sebelum dan sesudah diberikan konseling rasional emotif. Perbedaan tersebut menunjukkan perbedaan yang positif, yaitu meningkatnya tingkat kepercayaan diri siswa setelah mendapatkan perlakuan konseling  rasional emotif.
Pada saat pelaksanaan pemberian perlakuan konseling rasional emotif, para siswa dapat melaksanakan tahapan- tahapannya sesuai dengan yang sudah ditentukan, hal ini dapat dilihat dari hasil tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test) dengan menggunakan angket percaya diri. Konseli EKN mengalami peningkatan skor dari 128 menjadi 155, HTA mengalami peningkatan skor percaya diri dari 114 menjadi 140, LSS mengalami peningkatan skor dari 126 menjadi 142, MH mengalami peningkatan skor dari 128 menjadi 144, R mengalami peningkatan skor dari 130 menjadi 150, RA mengalami peningkatan skor dari 130 menjadi 159, demikan juga dengan konseli WFN yang mengalami peningkatan skor percaya diri dari 128 menjadi 153. Ketujuh konseli tersebut mengalami peningkatan dari percaya diri yang rendah menjadi percaya diri yang sedang dan tinggi.
Ada perbedaan antara konseli satu dengan yang lain. Hal ini dikarenakan minat untuk kluar dari masalah pada masing- masing konseli juga berbeda. Misalnya saja pada RA yang memiliki minat lebih dibandingkan dengan konseli lainnya dengan ditunjukkan kehadiran konseli yang selalu lebih awal dari perjanjian dan pelaksanaan tugas konseling yang tepat waktu. RA menjadi siswa yang mempunyai skor kepercayaan diri yang tinggi, padahal sebelumnya berada pada kategori rendah. Perbedaan tingkat kemajuan ini memang sesuai dengan pendapat Ellis (dalam corey, 2003) bahwa keinginan dan bukan keharusan akan memperlancar seseorang keluar dari pikiran irasionalnya dan hidup lebih rasional.
Sikap selama proses konseling maupun setelah konseling dilakukan pada masing- masing konseli juga menunjukkan adanya keinginan untuk berpikir lebih rasional. Mereka sudah tidak menuntut perubahan fisiknya, yang menjadi sumber masalah mereka, akan tetapi mereka berusaha menerima fisiknya dengan berpikir untuk tidak harus cantik ataupun ganteng. Pada pertemuan ketiga, mereka sudah dapat mengubah pola pikir irasional mereka dengan baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perkataan dan komitmen mereka untuk menjadi anak yang dapat menerima semua keadaan positif dan negatif mereka, dapat menciptakan dan menanamkan pada diri mereka sendiri bahwa cantik atau ganteng bukanlah hal utama yang membuatnya mempunyai banyak teman. Mereka ingin punya banyak teman dan bukan harus punya banyak teman, maka jika mereka berhasil, mereka akan puas dengan hasil usaha mereka. Namun jika tidak mendapatkan banyak teman, itu bukan akhir dari hidup mereka. Karena tidak ada yang mengharuskan termasuk konselor.
Selama pelaksanaan konseling rasional emotif tidak terdapat kendala yang dirasakan baik pengubahan keyakinan konseli maupun menciptakan pikiran baru yang lebih rasional, tempat, suasana, maupun pengaturan waktu. Hal tersebut dikarenakan konseli benar- benar berniat dan berkomitmen untuk merubah kepercayaan diri mereka yang rendah dan penyusunan jadwal yang telah disepakati konselor, guru- guru bidang studi, maupun konseli sendiri.
Penelitian ini dilakukan dengan tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding dari kelompok subyek yang diberikan perlakuan untuk memperkuat hasil dari penelitian, yakni adanya peningkatan kepercayaan diri siswa setelah diberikan konseling rasional emotif. Oleh karena itu, pada penelitian selanjutnya terkait konseling rasional emotif diharapkan menggunakan kelompok pembanding untuk memperkuat hasil penelitian yang dilakukan.
Penutup
a.    Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Terdapat peningkatan kepercayaan diri pada siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban setelah diberikan perlakuan konseling rasional emotif dengan 5 kali pertemuan.
2.    Peningkatan percaya diri yang terjadi sudah meyakinkan dengan selisih skor antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan rata- rata sebesar 23.
3.    Perubahan perilaku percaya diri bukan hanya dibuktikan dengan perolehan skor post-test tetapi juga perubahan perilaku selama proses konseling.
b.   Saran
Sehubungan dengan berakhirnya penelitian yang dilakukan, maka diajukan beberapa saran terkait dengan hasil penelitian dan akan berguna bagi konselor, siswa, dan peneliti lain.
1.    Bagi konselor
Telah terbukti konseling rasional emotif dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas IX B SMP Negeri 6 Tuban, maka pihak sekolah dan konselor sekolah diharapkan dapat menerapkan konseling rasional emotif agar dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa.
2.    Bagi siswa
Setelah pelaksanaan konseling rasional emotif ini diharapkan siswa kepercayaan dirinya rendah atau kurang, terus berusaha dan melatih diri menerapkan konseling rasional emotif sehingga dapat mencapai hasil yang lebih optimal. Mengubah pikiran dan keyakinan irasional yang menjadi penyebab kurangnya percaya diri siswa menjadi lebih rasional, selanjutnya mengembangkan keyakinan dan pikiran barunya, dapat siswa lakukan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.
3.    Bagi peneliti lain
Diharapkan dapat menambah wawasan bagi peneliti lain khususnya mengenai konseling rasional emotif untuk meningkatkan kepercayaan diri, menambah teori- teori baru yang dapat memperbarui hasil penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, Dani. 2007. Mengatasi Masalah Di Sekolah. (online). (http://www.edumuslim.org/index, diakses tanggal 13 Maret 2010).

Arif, Mudzakkir M. 2008. Percaya Diri. (online), (http://myshandy.multiply.com/journal/item/6, diakses tanggal 30 Oktober 2009).

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. Jakarta : Rineke Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2003. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Baraja, Abubakar. 2008. Psikologi Konseling dan Teknik Konseling. Jakarta: Studia Press.

Cahyani, Dian Eka. 2006. Konseling Rasional Emotif Untuk Membantu Siswa Mengatasi Kecemasan Dalam Bergaul di Sekolah Pada Siswa Kelas I Mm SMK Negeri Lamongan. Skripsi Tidak diterbitkan. Surabaya: PPB FIP UNESA.

Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

Darminto, Eko.2007. Teori- teori Konseling. Surabaya: Unesa University Press.

Dobson, James C. 2005. 12 Strategi Membangun Harga Diri Anak. Yogyakarta: Cinta Pena.

Ellis, Albert. 2007. Terapi REB Agar Hidup Bebas Derita. Bandung: Citadel Press

Gunarini, Febriana. 2008. Penggunaan Strategi Modelling Partisipan Untuk Membantu Meningkatkan Rasa Percaya Diri Siswa Kelas VII C SMPN 4 Surabaya. Skripsi Tidak diterbitkan. Surabaya: PPB FIP UNESA.

Hakim. Thursan, 2002, Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri, Jakarta : Purwa Suara.

Hauck, Paul. 1995. Mendidik Anak dengan Berhasil. Jakarta: Arcan.

Hurlock, B. Elizabeth. 2000. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Kartono, Kartini dan Dali Gulo. 2000.  Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya.

Latipun. 2006. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.

Lie, Anita. 2003. 101 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Anak. Jakarta: Gramedia.

Mappiare A.T, Andi. 2006. Kamus Istilah Konseling & Psikoterapi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Moelong, Lexy. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nelson, Richard dan Jones. 1982. The Theory and Practice of Counseling Psychology. Avon: The Bath Press.

Parrot, Les. 2003. Counseling and Psychotherapy. USA : Thomson.

Rofi’ah, Risatur. 2009. Penggunaan Konseling Rasional Emotif Untuk Membantu Menurunkan Kecemasan Siswa Dalam Mengikuti Pelajaran Bahasa Inggris di SMA Negeri 3 Lamongan.Skripsi  Tidak diterbitkan. Surabaya: PPB FIP UNESA.
Santrock, John W. 2003. Adolescence (Perkembangan Remaja). Jakarta: Erlangga.

Sari, Dewi Kumala. 2008. Menurunkan Kecemasan Berbicara di Muka Umum Dengan Menggunakan Konseling Kelompok Rasional Emotif (RE) Pada Siswa Kelas X- 4 Dan X- 5 SMA NU Gresik. Skripsi Tidak diterbitkan. Surabaya: PPB FIP UNESA.

Sasmita, Dewi Kurnia. 2009. Penggunaan Strategi Cognitive Resrtucturing Untuk Meningkatkan Percaya Diri Pada Siswa Kelas X APK SMK PGRI 7 Surabaya. Skripsi Tidak diterbitkan. Surabaya: PPB FIP UNESA.

Siegel, Sydney. 1990. Statistik Non Parametrik: Untuk Ilmu Sosial. jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sugiyono.2008.Metode Penelitian Pendekatan Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Tanpa Nama. 2008. Kamus Kompetensi : Percaya Diri, (online), (http://indosdm.com/kamus-kompetensi-percaya-diri-self-confidence diakses Tanggal 31 Oktober 2009).

Umar, Husein. 1996. Metode Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.

Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.